Cogeneration, Pembangkit Listrik Paling Efisien (Cogeneration, The Most Efficient Power Plants)

About this entry

Cogeneration, Pembangkit Listrik Paling Efisien (Cogeneration, The Most Efficient Power Plants)
Pada pembangkit standard berbahan bakar fosil, pemborosan terjadi ketika batubara atau gas mulai dibakar. Pada sebagian pembangkit, hanya sejumlah 30% energy yang mengalir ke jaringan distribusi.


Sisanya dalam bentuk panas, dibuang melalui cerobong asap. Andai orang bisa membuat pembangkit yang dapat mengubah 80% bahan bakar menjadi energi terpakai (useful energy), betapa menguntungkan.

Ya, pembangkit idaman tersebut kini sudah hadir. Tapi calon pelanggan kelihatan belum tertarik. Mengapa? Penguasa listrik dan pembuat kebijakan sepertinya takut akan kehadiran pembangkit jenis baru ini.
Skema Combined Cycle Cogeneration (Photo: epcorpowerlp)
Efisiensi sebesar 80% dapat dicapai pada system yang menggabungkan panas dan pembangkit listrik, dikenal dengan pembangkit cogeneration (cogeneration plants). Pembangkit jenis ini ideal bagi institusi besar seperti universitas, rumah sakit, dan bandar udara, yang membutuhkan energi listrik dan panas dalam jumlah besar. Pada pembangkit cogeneration, energi panas tidak dibuang, tapi digunakan untuk menyediakan energi bagi system pemanas/pendingan, bahkan bisa juga digunakan kembali untuk membangkitkan listrik.
Tapi teknologi yang disukai kalangan akademisi ini, oleh perusahaan listrik justru dianggap sebagai ancaman. Mengapa? Jika institusi-instritusi besar yang kini menjadi pelanggan perusahaan listrik beralih ke pembangkit cogeneration, jelas mengancam penjualan perusahaan listrik.
“Teknologi ini tidak biasa di kalangan perusahaan listrik,” kata Rob Thornton, Presiden International District Energy Association.
Ambil kasus Massachusetts Institute of Technology (MIT), yang melakukan riset bertahun-tahun di bidang ini dan mengembangkan pembangkit cogeneration berkapasitas 22 MW untuk kampus MIT. Pembangkit selesai dibangun 1995. Tapi CELCo, perusahaan listrik setempat tidak menyembut baik, bahkan menjatuhkan denda $6 juta pada universitas.
Menurut CELCo, mereka telah mengeluarkan dana besar guna membangun infrastukur listrik di MIT, dan denda tersebut dikenakan untuk mengganti kerugian mereka. Lobi-lobi kemudian berhasil menurunkan denda menjadi $4.5 juta.
Bukan hanya di MIT, sebuah rumah sakit di Massachusetts yang bermaksud membangun pembangkit cogeneration ditekan bertahun-tahun oleh perusahaan listrik setempat.

“Potensi penghematan yang bisa dicapai dengan pembangkit cogeneration sungguh besar,” kata Neal Elliott, pakar sistem cogeneration. “Berlipat-lipat kali penghematan dapat dicapai dengan menerapkan teknologi ini secara luas secara nasional,” kata Elliott.
Salah satu cara membujuk perusahaan listrik adalah dengan membangun system cogeneration yang bisa disambungkan dengan jaringan milik perusahaan listrik. Tapi usul ini pun masih dipersulit perusahaan listrik dengan menunda-nunda izin. Elliott menceritakan proses penundaan yang diamatinya. “Diperlukan 60 hari untuk melakukan studi penyambungan system baru dengan jaringan listrik milik perusahaan listrik, lalu 60 hari untuk mempresentasikan hasil studi ke perusahaan listrik, dan 90 hari untuk dibutuhkan perusahaan listrik untuk menilai hasil studi, jika mereka punya pertanyaan, dibutuhkan 30 hari. Jika dijumlahkan, bisa memakan waktu satu, dua atau tiga tahun. Penantian penuh stress ini membunuh sebagian besar proyek cogeneration. Waktu adalah uang”
Memang tidak semua perusahaan listrik melakukan hal yang sama. Tapi perlakukan terbaik oleh perusahaan listrik terhadap proyek cogeneration adalah mewajibkan mereka menjadi pelanggan perusahaan listrik, kata Ed Legge, juru bicara Edison Electric Institute.
Diterjemahkan dari tulisan Sam Purl di Worldofrenewables

 
About Me | Author Contact | Template Basic On Adara | Powered By Blogspot | © Copyright  2012